Pertanyaan ini sering mampir ke saya: mending kursus atau belajar bahasa Inggris sendiri?
Jawaban saya dari dulu sama. Dua-duanya bisa berhasil, dan dua-duanya juga bisa gagal. Yang menentukan biasanya bukan jalan yang kamu pilih di antara keduanya, tapi apakah cara itu cocok dengan tujuan, waktu, dan kebiasaan kamu.
Di bawah ini saya tulis apa yang saya lihat dari murid-murid saya selama mengajar, ditambah beberapa penelitian yang menjelaskan kenapa hal itu terjadi.
Mulai dari tujuan kamu dulu
Sebelum memilih caranya, tanya dulu ke diri sendiri: kamu belajar bahasa Inggris buat apa, dan apakah kamu punya target yang bergantung dengan waktu?
Kalau kamu butuh skor IELTS 6.5 tiga bulan lagi, jangan coba otodidak dari nol. Waktunya terlalu mepet buat coba-coba, dan kamu butuh tutor yang bisa langsung bilang bagian mana yang masih kurang.
Tapi kalau kamu cuma pengen ngerti film tanpa subtitle atau baca berita luar negeri, ga perlu bayar kursus. Tujuan seperti itu bisa kamu kejar sendiri, pelan-pelan, tanpa deadline.
Satu hal yang sering dilupakan: belajar bahasa butuh jam terbang. Cambridge English memperkirakan, naik satu level CEFR (misalnya dari B1 ke B2) butuh sekitar 200 jam belajar terbimbing, yaitu jam di kelas ditambah belajar yang diarahkan pengajar.

Angka ini perkiraan. Kamu bisa lebih cepat kalau banyak belajar di luar kelas, dan bisa lebih lambat kalau jarang.
Kursus cocok buat kamu kalau…
- Kamu masih benar-benar mulai dari nol dan belum tahu harus mulai dari mana.
- Kamu tipe yang perlu “dikejar” supaya tetap jalan.
- Yang mau kamu kejar itu selain fundamental juga ada speaking dan writing.
Poin terakhir ini yang paling sering diremehkan. Ngomong bahasa Inggris itu mirip nyanyi. Kamu jarang sadar kalau suara kamu fals sampai ada orang lain yang dengar. Pengucapan dan grammar waktu ngomong atau menulis juga begitu.
Penelitian mendukung hal ini. Roy Lyster dan Kazuya Saito (2010) menggabungkan hasil 15 penelitian di kelas bahasa dengan total 827 pelajar. Hasilnya, koreksi lisan dari pengajar berpengaruh nyata pada perkembangan bahasa pelajar, dan efeknya bertahan lama.
Yang menarik, koreksi yang memancing pelajar membetulkan kalimatnya sendiri hasilnya lebih besar daripada koreksi yang langsung memberi jawaban. Misalnya kamu bilang “Yesterday I go to the mall.” Guru yang memancing akan bertanya balik, “Yesterday I…?” sampai kamu sadar sendiri harusnya “went”. Guru yang langsung memberi jawaban cukup mengulang, “Oh, you went to the mall.”
Di kursus, semuanya sudah diatur buat kamu
Kalau kamu ikut kursus, urutannya biasanya begini:
- Tes level.
- Masuk kelas sesuai level kamu.
- Ikuti materi dari bab ke bab.
- Kesalahan kamu dikoreksi.
- Evaluasi.
Masalahnya, banyak yang merasa cukup dengan datang ke kelas. Padahal kelas biasanya paling lama cuma dua jam, dua kali seminggu. Itu 4 jam dari 168 jam yang kamu punya dalam seminggu.
Coba hitung pakai angka Cambridge tadi. Kalau naik satu level butuh sekitar 200 jam dan kamu cuma belajar 4 jam seminggu di kelas, kamu butuh sekitar 50 minggu. Hampir setahun untuk satu level. Makanya murid yang ga pernah buka materi lagi di rumah, setahun kemudian levelnya biasanya masih di situ-situ aja.
Kursus juga punya dua kekurangan lain:
- Biayanya ga murah.
- Tempo kelas belum tentu pas dengan kecepatan belajar kamu.
Belajar sendiri cocok buat kamu kalau…
- Kamu sudah punya dasar, minimal bisa baca teks sederhana tanpa menerjemahkan kata per kata.
- Jadwal kamu ga tentu.
- Budget kamu terbatas.
- Fokus kamu ke listening dan reading.
Kelebihannya jelas. Gratis atau murah, bebas, dan kamu bisa langsung ke bagian yang kamu butuhkan tanpa menunggu teman sekelas.
Tapi ada satu hal yang hilang: ga ada yang “ngejar” kamu. Seberapa besar pengaruhnya terlihat dari data kursus online gratis Harvard dan MIT. Justin Reich dan José Ruipérez-Valiente (2019) menganalisis data peserta kursus online HarvardX dan MITx selama enam tahun, dan hasilnya dimuat di jurnal Science.
Lebih dari separuh pendaftar (52%) bahkan ga pernah membuka materinya. Pada tahun 2017-2018, dari peserta yang sejak awal berniat menyelesaikan kursus, cuma sekitar 15% yang benar-benar selesai. Kalau dihitung dari semua peserta, angkanya cuma sekitar 3%.
Data itu memang dari kursus online secara umum, bukan khusus bahasa Inggris. Tapi gambarannya jelas: tanpa jadwal dan tanpa orang yang menunggu kamu, bertahan sampai selesai itu susah.
Kalau kamu mau belajar sendiri, begini caranya
- Cek level kamu dulu. Pakai tes level online gratis supaya kamu tahu harus mulai dari mana.
- Pilih satu sumber utama, lalu selesaikan sampai habis. Satu buku, satu kursus online, atau satu channel. Jangan ganti-ganti tiap kamu merasa bosan atau stuck.
- Belajar di jam yang sama setiap hari. Walaupun cuma 30 menit atau bahkan 15 menit.
- Latihan ngomong dan menulis sejak awal. Walaupun cuma rekam suara kamu sendiri atau menulis tiga kalimat sehari.
Langkah ketiga ada dasarnya. Phillippa Lally dan timnya di University College London (2010) mengikuti orang-orang yang mencoba membangun satu kebiasaan baru setiap hari. Rata-rata butuh 66 hari sampai kebiasaan itu terasa otomatis, walaupun angkanya berbeda-beda untuk tiap orang.
Kabar baiknya, bolos satu hari ga terlalu berpengaruh. Yang bikin kebiasaan gagal terbentuk adalah kalau kamu sering bolong. Jadi kalau kamu mulai belajar sendiri, kasih waktu minimal dua bulan sebelum menilai cara kamu berhasil atau tidak.
Yang paling sering bikin gagal belajar sendiri
Dari pengalaman saya, ada dua.
Ganti materi tiap minggu. Minggu ini aplikasi, minggu depan YouTube, minggu depannya lagi buku baru. Setiap kali ganti, kamu mulai lagi dari bab awal yang itu-itu saja.
Kesalahan yang ga pernah dibenerin. Saya pernah dapat murid baru yang sudah bertahun-tahun belajar sendiri. Listeningnya bagus sekali, tapi selama itu dia selalu bilang “I am agree”, dan ga ada yang ngasih tahu dia. Yang benar cukup “I agree”, karena agree sudah kata kerja.
Dalam linguistik, ini dekat dengan yang disebut fosilisasi, istilah dari Larry Selinker. Bentuk yang salah bisa menetap lama di bahasa seorang pelajar, walaupun kemampuannya yang lain terus berkembang. Bahkan ada kesalahan yang tetap bertahan setelah dikoreksi. Karena itu, menurut saya, makin cepat sebuah kesalahan ketahuan, makin baik.
Kalau budget kamu terbatas, gabungkan saja
Kamu ga harus memilih salah satu. Yang biasanya saya sarankan:
- Pelajari sendiri: vocabulary, listening, dan reading. Sumber gratisnya banyak, dan kamu bisa cek sendiri jawaban kamu benar atau salah.
- Ambil kelas atau sesi privat: speaking dan writing. Di dua bagian ini kamu paling butuh orang lain untuk mengoreksi.
Dengan cara ini, uang kamu terpakai di bagian yang memang butuh pengajar, dan sisanya kamu kejar sendiri.
Jadi, pilih yang mana?
Kalau tujuan kamu punya deadline, kamu masih mulai dari nol, atau yang kamu kejar speaking dan writing, kursus seharusnya lebih aman. Kalau kamu sudah punya dasar dan tujuannya santai, belajar sendiri sudah cukup, asal kamu konsisten dan sesekali minta orang lain mengecek.
Kamu sekarang lagi ikut kursus atau belajar sendiri? Ceritain kendala kamu di kolom komentar. Kalau kamu butuh teman untuk koreksi speaking atau writing, kamu bisa cek kelas di English with Rangga [link ke halaman kelas].
Sumber
- Cambridge English. Guided learning hours. Cambridge English Support Site.
- Lyster, R., & Saito, K. (2010). Oral feedback in classroom SLA: A meta-analysis. Studies in Second Language Acquisition, 32(2), 265-302.
- Reich, J., & Ruipérez-Valiente, J. A. (2019). The MOOC pivot. Science.
- Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology. Ringkasan: UCL News.
- Selinker, L. (1972). Interlanguage. International Review of Applied Linguistics in Language Teaching. Ringkasan: EBSCO Research Starters dan Humanising Language Teaching.

